Sabtu, 07 Januari 2012

kau bukan putih sejati

Putih,,,,,,,,,
Bukan hanya pembalut tubuhmu
Bukan hanya lambang aktivitasmu
Bukan hanya lambang kebanggaanmu

Bukan,,,,,,,,
Bukan hanya sekedar itu
Bukan hanya seperti itu
Dan bukan hanya kata-kata itu

Kau mengaku jiwamu putih,
Namun dirimu hitam
Kau mengaku pikiran dan akalmu putih,
Namun tingkahmu hitam

Dimana??????
Dimana kau tempatkan putihmu???
Dimana kau tunjukkan putihmu???
Dan dimana sesungguhnya putih sejatimu???

Kau bukan lah putih sejati,
Karena kau tak berkemanusiaan
Kau bukan lah putih sejati,
Karena kau tak peduli sekitarmu

Wahai kau putih sejati,
Tunjukkan dirimu
Tunjukkan jiwamu
Tunjukkan pikiranmu

Agar putih tak sejati pudar olehmu
Agar putih tak sejati pergi darimu
Agar putih tak sejati hancur olehmu
Agar putih tak sejati lenyap untuk selamanya


Wahai kau putih sejati
Yang sesungguhnya
Ku tunggu kehadiranmu
Hingga akhir hayat putih

surat untuk allah....

Dear Allah,


Assalamualaikum  ya Allah, Tuhan yang Maha baik. Aku tahu Engkau sudah mengenalku sejak lama, tapi kata orang tua ku, kepada siapa pun aku harus memperkenalkan diri terlebih dahulu agar bisa saling kenal . jadi, namaku juanda ya Allah..

Aku bingung  bagaimana caranya surat ini akan sampai di meja-Mu ya Allah, aku juga tak yakin  apakah surat ini akan sampai atau tidak akan pernah sama sekali.  Aku tidak begitu peduli, aku hanya memiliki harapan,ada juga malaikat yg bertugas memantau tulisan-tulisan yang berserakan di jejaring social ini untuk menyampaikannya pada-Mu jika ada yg perlu disampaikan.

Rabb..
Aku sangat sadar bahwa Engkau tidak pernah sedikitpun lengah atasku atau hamba mu yang lain, hanya seringkali aku dan yang lain yg tidak pernah peka akan keberadaanmu. Aku pun tau Engkau selalu ada dalam keadaan ku seperti apapun, Engkau ada dalam lelapku, Engkau ada dalam lengahku. Aku begitu bodoh ya Allah , ampuni lah aku..

entah mengapa tiba-tiba saja aku merasakan kerinduan yang tak terbendung sedikitpun, kerinduan yang luar biasa pada-Mu pemilik hidup dan matiku.

Engkau ya Allah ya tuhanku yg maha pengasih dan penyayang  aku tau aku begitu hina, aku mengerti aku begitu  bodoh. Aku pun paham sekali bahwa aku tidak lebih dari manusia yang kan menjadi salah satu penghuni neraka-Mu yang tak tahu  berapa abad lamanya nanti, namun ijinkan aku merindukan-Mu.
Aku sadar setiap hamba-Mu pasti kau berikan cobaan hidup yang tak mungkin mereka jalani hanya dengan lurus saja. Tapi ya Allah,aku juga sadar bahwa kau tak kan memberi cobaan pada hambamu ini melebihi batas ku.
aku sadar, semua manusia didunia ni pasti memiliki kontrak hidup pada mu. Yang tak tahu kapan kontrak itu kan habis. begitu pun aku, entah itu 1 tahun, 1 bulan, 1 minggu, 1 hari, 1 jam,1 menit atau bahkan 1 detik lagi…….

Namun, sebelum waktu ku tiba, entah kapan pun itu. Ku mohon pada mu ya Allah, izinkan ku mengukir dan menciptakan kebahagian kepada orang-orang sekitar ku yang begitu ku cintai terutama pada orang tua ku. Kau lah maha pengasih ya Allah bantu hamba tuk memberikan yang terbaik untuk semua nya, bantu aku untuk selalu membuat semua orang tersenyum,,,,,

Genggam jemariku ya Rabb. berikan aku kekuatan untuk sanggup melanjutkan detik-detik sisa hidupku dalam taat pada mu, hentikan  semua kebodohanku.Enyahkan semua kekerasan hatiku.Belaian-Mu yang kau berikan pada ku membuatku candu ya Allah ya Rahman ya Rahim.Menggeliatkan  susunan syaraf-syaraf kekakuanku yg sudah membuat hidupku menjadi kumpulan puzzle yang tidak pernah tuntas , belaian-Mu menenangkanku ya Allah. Aku tau semuanya akan baik-baik saja bersama-Mu, semuanya akan tetap menjadi hidup yang damai di dekap-Mu.Ampuni aku yang hina ini ya Allah, ampuni aku. Temani aku dan jangan berhenti mendekap serta belai kepalaku.Aku rindu pada –Mu ya Allah,

dari hamba yang merindukan mu,,,



dirimu sendiri

kita hidup didunia ini memang tak bsa luput dari orang lain. karena kita adalah makhluk sosial yang tak bisa berdiri tanpa bantuan orang lain....
namun, adakala nya kita hanya mampu untuk menghadapi hidup ni dengan sendiri, kita terkadang memang harus berdiri di atas kedua kaki kita sendiri,,
gunakan lah dirimu sendiri untuk menghadapi hidup mu, karena yang tahu tentang diri kita adalah diri kita sendiri....
namun, kita harus tetap berpegang pada idealisme kita sebagai makhluk sosial,,,,
tetap semangad........
hidup ini terlalu indah untuk di abaikan....
pergunakan lah kedua kaki mu sendiri.....















Jumat, 06 Januari 2012

ayah


Ayah,
Kau menjadi tulang punggung keluarga
Tanpa pandang sulit,lelah dan hasil kerjamu
                  Ya, kau lah pria tertangguh dan terkuat yang ku kenal
 
Ayah,
Kau selalu lindungi ku dari bahaya
 tanpa takut terkalahkan oleh apapun
 ya, kau lah pria tergagah yang ku kenal

ayah,
kau selalu memecahkan semua masalh
dengan melihat dari berbagai sudut
ya, kau lah pria terwibawa dan terkarisma yang ku kenal
   
Ayah,
 Kau selalu mengelus dadamu
Sekasar dan sejahat ku padamu
Ya,kau lah pria tersabar yang ku kenal

Ayah,
Kau selalu teguh dan tak menyerah
Sesulit apapun cobaan yang kau terima
                   Ya, kau lah pria tertegar yang ku kenal 
 
Ayah,
 Kau selalu percayadiri terhadap dirimu
 Wajahmu begitu mempesona luar biasa
Ya, kau lah pria tertampan yang ku kenal

Ayah,
Begitu luar biasanya dirimu di mataku
Tak ada pria yang dapat menyayingi dirimu
Kau lah pria terbaik dari segalanya

 Di mataku kau tak kan dapat tergantik
Walau ada yang lebih terbaik darimu
Walau ada yang lebih luar biasa dari mu
Karna kau adalah ayah terbaik & luar biasa bagiku

Ajari aku agar dapat sepertimu
Tetaplah kau seperti itu
Tetaplah kau menjadi ayah terbaikku
Hingga akhir hayat mu kelak....
karya: JUANDA

maafkan tubuh ini



Aku adalah noda hitam nan besar
Yang menutupi warna putih nan bersinar
Aku adalah goresan hitam nan panjang
Yang merusak suatu sinar keindahan
                    
Aku memang seorang pengabdi
Namun tak bisa mengabdi dengan tulus 
Aku memang seorang pelaksana hara
Namun tak bisa mengabulkan harap
Hari-hari kujalani dengan hitam
Yang selalu membayangi diri
Bekas noda hitam tertinggal
Disetiap tapak yang telah kulalui
Begitu banyak hitam it
Akibat ku mendusta pada kedua malaikatku
 begitu bertambah besarnya hitam ku
 Akibatku tak bisa berbakti pada kedua malaikatku
Wahai kau malaikat lembut nan suci
Maafkan  tubuh yang tak berbakti ini
Maafkan  tubuh yang telah mendusta ini
Maafkan  tubuh yang telah meneriakimu ini
Wahai kau malaikat nan gagah berani
Maafkan tubuh yang selalu berkata kasar ini
Maafkan tubuh yang selalu menangkal katamu in
Maafkan juga tubuh yang telah membrontakmu ini
Wahai kedua malaikat suciku
Kumohon maaf mu padaku
Aku tak sanggup hidup seperti ini
Hidup penuh dengan hitam
 Ku tak mungkin dapat berlari dan melompat
Sekencang kilat dan setinggi burung
Tanpa kalian beri maaf padaku
Tanpa kalian beri ucapan luar biasa padaku
Maafkan tubuh ini wahai malaikatku
Ku kan berusaha kurangi hitam ku
Hitam yang kuperbuat pada kalian
                   Wahai malaikat suci nan gagah ku

karya: JUANDA

jangan berhenti

Bukan karena berhenti akan menghambat laju kemajuan anda. Namun sesungguhnya alam mengajarkan bahwa anda tak akan pernah bisa berhenti. Meski anda berdiam diri di situ, bumi tetap mengajak anda mengelilingi matahari. Maka, bergeraklah, bekerjalah, berkaryalah. Bekerja bukan sekedar untuk meraih sesuatu. Bekerja memberi kebahagiaan diri. Itulah yang diharapkan oleh alam dari anda.
Air yang tak bergerak lebih cepat busuk. Kunci yang tak pernah dibuka lebih mudah serat. Mesin yang tak dinyalakan lebih gampang berkarat. Hanya perkakas yang tak digunakanlah yang disimpan dalam laci berdebu. Alam telah mengajarkan ini; Jangan berhenti berkarya, atau anda segera menjadi tua dan tak berguna.

Minggu, 12 September 2010

Dan Semua Karena Cinta

Dan Semua Karena Cinta 

 

Selusin tahun bukanlah waktu yang pendek. Tapi selusin tahun bisa pula sebuah rentang waktu yang tak seberapa. Tergantung apa yang kita lakukan pada selusin tahun itu. Kalau selama selusin tahun itu kita hanya ongkang-ongkang kaki dan hidup semata dari deposito milyaran rupiah, berani jamin: tahun ke13 kita sudah boleh menyiapkan selembar nisan bagi diri kita sendiri. Selusin tahun tanpa mengerjakan apa-apa adalah kuburan. Tapi selusin tahun berhubungan dengan seseorang tanpa kejelasan muara, ternyata juga mengerikan!
Itulah yang terjadi pada Sarmi. Sudah selusin tahun ia berhubungan dengan Siban. Pacaran? Ya, pacaran. Sejak mereka masih lagi sama-sama SMA malah. Selama itu mereka pacaran, selama itu pula mereka tak pernah tau betul: hendak dibawa kemana hubungan mereka itu. Apa pasal? Lagi-lagi soal klise: Sarmi dan Siban beda agama. Orang tua Sarmi tak setuju Sarmi menikah dengan Siban. Sementara orang tua Siban, oke-oke saja.
Pilihan orang tua Sarmi jelas: tinggalkan Siban dan mencari orang lain, atau silahkan menikah dengan Siban, tapi jangan lagi berhubungan dengan keluarga. Mak! Bukan sebuah pilihan yang mudah. Menikah dengan Siban memang segalanya bagi Sarmi. Mau cari lelaki yang bagaimana lagi? Wong sudah cinta mati kok.
Siban memang bukan lelaki kaya, atau punya pekerjaan terpandang, atau memiliki wajah ganteng selangit, atau lelaki yang sepenuhnya sempurna. Tidak. Siban lelaki biasa saja seperti umumnya lelaki kebanyakan. Namun namanya juga cinta mati, apa pun jadi. Ya kan. Tapi tak lagi dianggap anak oleh keluarga pun bukan hal main-main. Itulah mengapa, di ujung tanduk masa hubungan selusin tahun ini, terlebih di usia Sarmi yang sudah lewat 30 tahun, Sarmi seperti bingung menentukan pilihan. Siban atau keluarga? Atau cari pasangan lain?
Sebetulnya, mencari pasangan lain pun bukan hal sulit bagi Sarmi. Memang mesti ada permulaan lagi, pendekatan lagi, saling bargaining lagi. Toh tak sedikit yang mendekati serta menyukai Sarmi. Dan Sarmi bukan tak menyadari itu. Ia cantik, punya pekerjaan bagus, karir mapan, rumah dengan isi kumplit, serta hidup mandiri. Tapi yang namanya cinta, duh, bagi Sarmi, Siban memang tak ada duanya.
“Aku mesti gimana, Dan?” rujuk Sarmi suatu hari di telpon.
“Lho, pilihan untukmu kan sudah jelas.”
“Masa’ aku harus meninggalkan keluarga?”
“Berarti kamu memilih Siban.”
“Apa aku cari pasangan lain aja?”
“Ya berarti kamu memilih keluarga. Jelas kan?”
“Duh, kok complicated gini sih hidupku. Di usiaku seperti ini, yang tersisa buatku apalagi kalau bukan duda, bujangan nggak laku, atau lelaki hidung belang…”
“Hahaha! Pesimis gitu sih kamu. Ini soal bagaimana kamu mengambil sikap aja, Mi.”
“Iya, tapi masa’ soal beda agama aja dipermasalahkan.”
“Ya kamu kan nggak hidup sendirian. Kamu punya keluarga yang mesti kamu pertimbangkan juga pendapatnya. Mereka nggak setuju kamu menikah dengan orang yang tak seiman denganmu.”
“Huh! Gimana bisa dikatakan beda agama, lah wong aku tak beragama kok!”
“Hahaha! Sableng kamu!”
“Atau aku menikah sama kamu aja, Dan?”
“Wah, jangan…”
“Lho, napa?”
“Lelaki seperti aku bahaya!”
“Bahaya? Bahaya kenapa?”
“Playboy!”
“Hahahaha!!”
Begitulah Sarmi. Selusin tahun berjalan sudah, dan ia masih belum lagi tau mesti memilih: keluarga atau pacar. Cinta kalau terlalu mati kadang memang membahayakan juga. Bukankah Kahlil Gibran pernah menyatakan: berdirilah sejajar, hanya jangan terlalu dekat. Bukankah tiang-tiang candi tidak dibangun terlalu rapat.
Ribuan kisah cinta memang tak habis untuk direguk manusia. Itulah kenapa ada Romeo dan Juliet di Inggris, ada Sampek-Engtay di Cina, ada Layla-Majnun di Timur Tengah, tak pelak ada Siti Nurbaya di Minang sana. Atau ada yang hendak menjadi pasangan yang menyejarah lainnya? Boleh-boleh saja. Tapi meski demikian, Sarmi dan Siban tak punya obsesi sedikit pun menjadi pasangan yang menghebohkan, apalagi sampai ditulis oleh sejarah sebagai bagian dari peradaban manusia.
Hingga datanglah tahun ke13. Tahun dimana tiba-tiba Sarmi mengabarkanku bahwa ia hendak menikah pada bulan Agustus.
“Kau mesti datang, Dan.” pintanya.
“Ha? Dengan Siban?”
“Ya.”
“Akhirnya…!!!” teriakku lantang.
“Sudah, Dan. Jangan heboh gitu!” ketus Sarmi.
“Hei… gimana ceritanya…” tanyaku tak sabar.
“Sudahlah. Nanti saja itu.”
Aku masih saja tertawa-tawa. Tapi aku berusaha untuk menyanggupi kehadiranku.
“Tapi sebelumnya,” potong Sarmi, “Aku ingin bertemu dengan kalian.”
“Kalian? Dengan DV juga maksudmu?” tanyaku menyebutkan salah seorang sahabat kami.
“Ya. Bertiga.”
“Di kota mana?” tanyaku, karena kami bertiga memang tinggal di kota yang berbeda.
“Di kota KG aja.”
“Wah, ngajak pesta nih kayaknya.”
“Sudahlah. Pokoknya aku ingin bertemu dulu dengan kalian.”
“Oke-oke…” sambutku girang. Tapi Sarmi tetap saja serius.
Aku masih belum lagi tau bagaimana Sarmi dan Siban bersepakat mengambil keputusan itu. Apakah itu berarti Sarmi rela meninggalkan keluarga serta tak lagi diakui sebagai anak? Aku masih belum lagi tau.
Untuk itulah aku menyanggupi kehadiranku. Karena siapa tau ada segi yang menarik untuk ditulis. Bukankah sesederhana-sederhana cerita yang ditulis, ia mewakili pribadi individu atau malahan bisa juga bangsanya?
Tiba-tiba, sayup-sayup kudengar suara Enya melantunkan tembang May It Be yang, sungguh mati, membius itu.
Ai, cinta memang dahsyat serta menggetarkan.


karya: khairil ghibran